Inna Lillahi Wa inna Ilaihi Rajiun Sebagai Filsafat Hidup (1)


Kata ini sering kita dengar ketika ada seseorang meninggal dunia. Meninggal dunia (mati) sering dipersepsikan sebagai rajiun atau kembalinya mahluk kepada khalik.
Dari kalimat itu, ketika kita mau menggali dan mentadaburi maknanya, terdapat sesuatu yang lebih besar dari sekedar fenomena biologis (mati). Bahkan titik berat kalimat bukanlah kematian yang materiil, tetapi cara menjalani kehidupan.
Atau bisa dielaborasikan sebagai filsafat hidup. Ketika manusia melampaui kehidupan dengan jalan kematian, kondisinya bagi kita yang masih hidup adalah gaib. Artinya belum pernah ada yang bisa menggambarkan apa yang sesungguhnya dirasakan ketika sudah mati.

Yang bisa kita ketahui adalah berita-berita yang disampaikan oleh Nabi. Itupun gambaran dengan bahasa manusia dengan segala keterbatasannya.  Kegaibannya terlalu berat dan sulit jika manusia diwajibkan mempelajarinya.
Sehingga kalimat Inna Lillahi Wa inna Ilaihi Rajiun haruslah mempunyai bangunan metodologi yang bisa kita capai dengan segala kelemahan sebagai manusia.
Bahan yang diberikan Allah itu bisa kita rangkai menjadi sebuah bangunan ilmu yang mendasar (filsafat) tentang kehidupan. Karena memang kehidupannlah gelanggang perjuangan yang harus ditempuh dan sudah disediakan oleh Allah kepada manusia.
Tentu prosesnya tidak mudah untuk membangun ilmu tersebut (filsafat hidup). Tulisan ini bersifat muqadimah bagi proses tersebut.
Seperti halnya Allah SWT pernah berfirman bahwa Ia tak segan-segan membuat perumpamaan (amsal) seperti nyamuk bahkan yang lebih rendah dari itu
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik (Al Baqarah, 26)
Disini akan kita “pinjam” perbendaharaan ilmu-Nya untuk membangun filsafat tersebut.

Jelas yang akan kita ambil bukan objeknya (nyamuk) atau yang lebih rendah dari itu. Tetapi cara berpikirnya yang akan kita jadikan alat.
Allah pun juga sudah memberikan alat lain berupa amsal tentang pohon.
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, (Ibrahim, 24)
Demikian pula dengan filsafat hidup. Akar atau pondasinya harus kuat menghujam. Kalau diterjemahkan bisa berarti cara berfikirnya harus konsisten. Mempunyai daya nalar yang kuat dan presisi yang setepat-tepatnya.
Barulah filsafat hidup yang menghujam tersebut akan menjulang ke langit, seperti fenomena rajiun.
Bersambung…….

Leave a Comment