Curhat Bareng KMI (CBK) – 6 Mei 2017

Assalamu’alaykum warohmatulllahi wabarokatuh

Berikut pertanyaan beserta jawaban dari CBK(Curhat Bareng KMI) 
yang diadakan pada Hari Sabtu, 6 Mei 2017

Semoga bermanfaat dan dapat menjawab rasa penasaran kalian^^

Pertanyaan 1 :

            Assalamualaikum Wr. Wb.
            Afwan hendak bertanya, bagaimana tuntunan dan tata cara pelaksanaan shalat istikharah? Pada kondisi bagaimanakah shalat istikharah dianjurkan untuk dilaksanakan? Apa bedanya shalat istikharah biasa dengan istikharah Qur’an?
Syukron. Terimakasih banyak
Wassalamualaikum Wr. wb.
Jawab :
            Shalat Istikharah
            “Jika engkau akan mengambil ketegasan sesuatu yang penting, kerjakanlah shalat dua raka’at diluar shalat wajib dan bacalah doa istikharah”
            Beralasan hadits Jabir bin Abdullah yang mengatakan : Rasulullah s.a.w mengajarkan kepada kami beristikharah dalam segala hal sebagaimana ia mengajarkan pada kami Al-Qur’an. Ia mengatakan : “apabila ada kepentingan bagimu untuk melakukan sesuatu, hendaklah kerjakan shalat dua rakaat diluar shalat fardlu, kemudian membaca doa istikharah” [dari riwayat bukhari]
sumber : himpunan putusan tarjih muhammadiyah halaman 345 dan 351
            Adapun jika kita dihadapkan pada banyak pilihan, maka pertama-tama wajib atasnya; setelah meminta pertimbangan masukan dari ahli ilmu dan yang ahli dalam urusan tersebut dan yang dia percaya untuk menentukan satu pilihan saja dari berbagai pilihan yang dihadapi. Maka jika diaberkeinginan untuk melakukannya, hendaklah kerjakan istikharah terlebih dahulu.
Sumber:http://pamwates.blogspot.co.id/2008/11/kesalahan-dalam-memahami-shalat-dandoa.html
            Sedangkan untuk shalat Istikharah Quran, kami tidak menemukan nash-nash syara yang menjelaskan tentang ini
__
Pertanyaan 2 :
            Bagaimana batasan muslim dengan non muslim  pertanyaan pertama bagaimana hukumnya jika kita menganggap seorang nonmuslim sebagai sodara,  kasusnya dalam sebuah organisasi kita didoktrin bahwa kita satu angkatan merupakan sodara,  padahal didalamnya terdapat orang nonmuslim mohon penjelasannya, yang kedua jika kita telah berwudhu dan berjabat tangan dengan orang non muslim batalkah wudhu kita?
Jawab :
            Menganggap seorang nonmuslim sebagai sodara boleh boleh saja, karena batasan antara muslim dengan nonmuslim hanya dalam lingkup aqidah bukan muamalah, jadi selama tidak berhubungan dengan ibadah ya tidak masalah. Bahkan sudah diatur adab adab terhadap sodara non muslim, diantaranya :
  • Dianjurkan berbuat baik dalam muamalah (QS. Al-Mumtahana :8)
  • Tidak boleh menyakiti mereka tanpa hak, karena doa orang yang terzhalimi itu mustajab, bahkan bagi seorang non muslim sekalipun
    • “Berhati-hatilah terhadap doanya orang yang terzalimi, walaupun ia non-muslim. Karena tidak ada penghalang antara Allah dengannya” (HR. Ahmad, shahih).
    • Nabi shallallahu’alaihi wasallam juga bersabda: “Barangsiapa yang membunuh seorang kafir mu’ahad tanpa hak, ia tidak mencium bau surga” (HR. Ibnu Hibban, shahih). Maka tidak benar perbuatan sebagian kaum muslimin yang serampangan meneror, menyakiti atau membunuh orang non muslim tanpa hak. Perbuatan ini justru bertentangan dengan ajaran Islam.
  • Dianjurkan berbuat baik kepada tetangga non muslim
    • Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Jibril senantiasa mewasiatkan aku untuk berbuat baik kepada tetangga sampai-sampai aku mengira ia akan mendapatkan warisan dariku” (Muttafaqun ‘alaihi). Kata tetangga di sini bermakna umum, baik tetangga yang muslim maupun non muslim.

sumber : https://buletin.muslim.or.id/aqidah/toleransi-terhadap-non-muslim-dan-batasannya
Mengenai pembatal wudhu
  • ·         Buang air kecil dan besar
  • ·         Kentut
  • ·         Keluar madzi
  • ·         Keluar wadi
  • ·         Keluar darah haid dan nifas
  • ·         Keluar mani
  • ·         Jima’

            Di atasadalah pembatal wudhu yang telah disepakati. Jadi, jika berjabat tangan dengan non muslim tidak membatalkan wudhu, jika non muslim tersebut berjenis kelamin yang sama dengan antum.
__
Pertanyaan 3 :
            Bismillahirrohmanirrohim
            Selama kita belum menikah ridho anak  terletak pada ridho orang tua. Kalau orang tua mengajak pada kemungkaran sedang kita menolak, lalu orang tua tidak ridho sama kita itu gimana?
Apa Allah ridho sama kita?
Jawab :
            Kita diwajibkan untuk berbakti kepada orang tua. Selama perintah orang tua tersebut tidak bertentangan dengan quran dan hadits. Kalo ada hal yg bertentangan, kita dianjurkan untuk menolak dengan cara halus dan menjelaskan dengan halus pula kepada kedua orang tua.
Ada 3 hal yg harus kita cari ridhonyayaitu:
  1. Ridho Allah
  2. Ridho rosulullah
  3. Ridho orangtua

            Jika orang tua belum menerima kebenaran yang disampaikan, tidak masalah yang penting kita jangan berhenti mengingatkan dan yang terpenting jangan pernah putus untuk mendoakan kebaikan orangtua. Tapi jika kita mau menasehati orang tua maka kita harus terlebih dahulu membuktikan dengan sikap atau akhlaq kita yg baik, karena dengan sikap dan akhlaq kita yang baik insyaallah hati orang tua kita akan terketuk.
            Jika kita langsung mengelak atau langsung menasehati orang tua kita, belum tentu orang tua kita mau menerimanya. Dan jangan lupa mendo’akan orang tua kita supaya hati orang tua terketuk dan mendapat hidayah Allah.

Wallahu ta’ala ‘alam

Hamasah Lillah
Wasalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh
Informasi mengenai CBK lebih lanjut hubungi OA LINE KMI UPNVYK(@ouj1739e)

Leave a Comment